Mayor Inf. Nerson Filmon Baitanu, S.H.
Metronewsntt.com----DI BAWAH terik matahari tanah Timor yang kering dan keras, jejak langkah kecil itu bermula. Jauh dari hiruk pikuk kota, Nerson kecil tidak menghabiskan hari-hari masa kecilnya dengan mainan mewah. Tangannya telah akrab menggenggam cangkul, sementara kakinya yang tanpa alas menapak teguh di atas pematang ladang.
Setiap hari, ia menyaksikan perjuangan orang tuanyasepasang petani sederhana yang menggantungkan hidup pada belas kasihan alam, berharap hujan turun tepat waktu demi secercah harapan panen untuk menyambung hidup.
Namun, dari tanah yang keras itulah ia menempa pelajaran paling berharga tentang kehidupan seorang prajurit: disiplin yang lahir dari keterbatasan, kesabaran dalam penantian, dan mental pantang menyerah yang tak mudah patah. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan mimpi besar yang bagi sebagian orang di desanya terdengar mustahil—ia ingin menjadi seorang abdi negara.
Nerson memilih untuk merintis jalannya dari titik paling bawah. Tanpa fasilitas mewah, ia mendaftar sebagai prajurit Tamtama TNI AD. Seleksi yang ketat ia lewati dengan modal fisik yang ditempa alam pedesaan dan mental baja hasil didikan kemiskinan. Ia pun lulus. Sebagai prajurit paling junior dalam hierarki, tugasnya berat dan namanya jarang disebut. Namun, di barak yang sunyi usai latihan melelahkan, ia tak pernah berhenti belajar dengan mengamati kepemimpinan para seniornya dan menimba ilmu dari buku.
Ketekunan itu membuka pintu baru. Ia terpilih mengikuti pendidikan Secaba dan menyandang pangkat Bintara, mengembankan tanggung jawab sebagai pemimpin langsung di lapangan. Belum cukup sampai di situ, tekad kuat membawanya menembus persaingan ketat Sekolah Calon Perwira (Secapa). Berbekal doa orang tua dan konsistensi kerja keras, ia resmi dilantik sebagai perwira pertama dengan pangkat Letnan Dua Infanteri.
Kariernya terus menanjak di kecabangan Infanteri. Tak hanya mengandalkan kekuatan fisik sebagai tulang punggung pasukan pejalan kaki, ia juga mengasah sisi intelektualnya di tengah kesibukan dinas hingga berhasil meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.). Berbekal integritas dan ketajaman berpikir, ia dipercaya mengemban tugas penuh risiko di bidang intelijen hingga menyandang pangkat Mayor Infanteri.
Kini, buah dari perjalanan panjang itu terwujud nyata. Anak petani yang dulu berkalang tanah di pedalaman Timor itu kini berdiri gagah sebagai Komandan Tim Intel Korem 161/Wirasakti, mengawal stabilitas dan kedamaian di bumi Nusa Tenggara Timur.
Kisah Mayor Inf. Nerson Filmon Baitanu, S.H. membuktikan bahwa latar belakang bukanlah sebuah batasan, melainkan batu loncatan. Pangkat dan jabatan bukanlah hadiah, melainkan buah dari keringat dan ketulusan. Dari ladang menuju markas komando, ia membuktikan bahwa mimpi besar selalu berpihak kepada mereka yang berani berjuang lebih keras.(***)